Minggu, 23 Juli 2017

Jakarta Larut Dalam Malam

Ditemani suasana hati yang gundah,  aku meluncur menyusuri jalan menuju tempat yang terbesit dalam angan.  Hiruk pikuk jalan masih ramai warnai aspal yang terdiam.  Tentunya, diselingi bunyi khas penghuni jalan sehari-harinya,  makhluk artifisial keluaran negara-negara pengatur alur cerita dunia dewasa ini.

Butuh beberapa waktu sampai tujuan di mana pikiran tertambat di sana,  suatu tempat yang pernah disinggahi pada waktu lalu.  Memang,  tidak seperti biasanya,  di mana ada manusia ibukota berkumpul pada suatu acara yang dianggap oase pikiran menenggak segarnya petuah-petuah seorang tokoh yang dianggap langka,  unik,  kharismatik,  dan beraparadigma melawan arus.

Tempat itu,  malam ini,  memang nampak lain,  hanya disesaki pengunjung bermuamalah dengan pedagang.  Tidak ada orasi,  tidak ada sorak sorai,  tidak tawa sinis terhadap realita,  tak ada deru shalawat kepada Nabi.  Begitulah suasana malam ini di sini,  tempat ini. 

Namun,  nampaknya,  pikiranku tak persoalkan itu,  ia masih menangkap suasana seperti biasanya,  meski bermodus kenangan.  Penglihatan memori pada tempat yang meliputi suasana itu sendiri. Meski ada ruang yang penglihatan yang gelap,  tak jadi soal.

Di sana aku duduk,  bersandar dinding,  menikmati pohon yang sesekali kupandang.  Meski, masih belum teruai hatiku yang sempit,  hari ini. Begitulah Jakarta malam ini,  di samping jalan,  ditemani temaram lampu,  produk perkembangan zaman,  katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar