Minggu, 23 Juli 2017

Eksistensialisme?

Eksistensialisme dengan berbagai "begawannya" membalik paradigma rasionalisme cartesian dalam diktum cogito ergo sum--saya berpikir, maka saya ada--menjadi--saya ada, maka saya berpikir. Karena, "aliran" ini menganggap prasyarat adanya adalah eksistensi kemudian esensi.

Dengan demikian, manusia haruslah kembali pada dirinya dalam menghadapi "kehidupan". Dirinya yang penuh kebebasan untuk memilih dan menentukan, sembari dirinya "bersimpuh" kepada Maha Transenden.

Bisa jadi, perenungan eksistensialisme ini berusaha mengangkat manusia dari ketidaksadaran dan "ketidakbebasan" dirinya--dirinya yang terlupakan dan terjajah--ideologi dunia. — di Jl. Kertamukti No.5 Kampus UIN Pascasarjana Ciputat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar