Sabtu, 24 Januari 2026

Kenapa Nabi Muhammad Saw Lahir Abad 6 M?

Sejarah tidak pernah benar-benar bergerak secara acak. Ia seperti sungai besar yang, pada momen tertentu, menemukan celah paling tepat untuk mengalir deras. Abad ke-6 M adalah salah satu celah itu. Sebuah masa ketika dunia tampak letih, peradaban-peradaban besar mulai kehilangan arah, dan manusia—secara kolektif—mencari makna baru dalam hidupnya. Di tengah situasi inilah Nabi Muhammad Saw lahir, bukan sekadar sebagai tokoh religius, tetapi sebagai penanda perubahan besar dalam sejarah manusia.

Jika kita menoleh ke peta dunia abad ke-6 M, yang tampak bukanlah kejayaan, melainkan kelelahan. Kekaisaran Romawi Timur dan Persia Sassaniyah, dua raksasa peradaban saat itu, terlibat dalam perang panjang yang menguras tenaga dan sumber daya. Institusi politik melemah, ekonomi tertekan, dan rakyat kecil menanggung beban terberat. Di Eropa Barat, pasca runtuhnya Romawi Barat, kehidupan intelektual mengalami stagnasi. Pengetahuan tidak berkembang, dan tatanan sosial kehilangan pegangan yang jelas. Agama-agama besar pun tak luput dari krisis; ajaran luhur sering terjebak dalam perdebatan doktrinal, sementara nilai moral semakin jauh dari praktik sehari-hari.

Di saat dunia besar sedang limbung, Jazirah Arab justru berada di pinggir sejarah, tidak ikut runtuh, tetapi juga belum bangkit. Wilayah ini tidak dikuasai Romawi maupun Persia. Ia bukan pusat kekuasaan, tetapi menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai peradaban. Orang Arab hidup dalam tradisi lisan yang kuat, menjaga ingatan kolektif melalui syair dan cerita. Namun, kehidupan sosial mereka juga sarat konflik: perang antarsuku, ketidakadilan, dan kekerasan dianggap lumrah. Arab, dengan segala keterbatasannya, adalah ruang yang keras, tetapi justru belum terkunci oleh sistem besar apa pun.

Di sinilah letak paradoks sejarah. Justru dari wilayah yang dianggap “terbelakang” inilah lahir gagasan besar yang mengubah dunia. Ibn Khaldun, sejarawan dan filsuf Muslim abad ke-14, mungkin akan mengatakan bahwa masyarakat Arab kala itu memiliki ‘asabiyyah—solidaritas sosial—yang masih murni dan kuat. Solidaritas ini memang kasar dan destruktif, tetapi memiliki energi besar. Ia hanya menunggu arah. Kehadiran Nabi Muhammad Saw mengubah energi kesukuan itu menjadi ikatan ideologis yang lebih luas, melampaui darah dan kabilah, menuju persaudaraan atas dasar iman dan keadilan.

Sementara itu, Arnold J. Toynbee, sejarawan modern, menawarkan kacamata berbeda namun saling melengkapi. Dalam teorinya tentang challenge and response, Toynbee menjelaskan bahwa peradaban lahir ketika manusia mampu merespons tantangan besar secara kreatif. Abad ke-6 M menghadirkan tantangan global: krisis moral, kekosongan spiritual, dan ketimpangan sosial. Islam, melalui ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw tampil sebagai respons yang menyeluruh, memberi makna hidup, menata ulang relasi sosial, dan menawarkan visi keadilan yang konkret.

Pertanyaannya kemudian, mengapa abad ke-6 M? Mengapa bukan lebih awal atau lebih lambat? Sejarah memberi jawaban yang sunyi namun tegas. Jika Islam hadir lebih awal, ia mungkin akan tenggelam di bawah bayang-bayang imperium besar. Jika hadir lebih lambat, dunia sudah terlanjur dipagari oleh sistem kekuasaan dan ideologi yang sulit ditembus. Abad ke-6 M adalah momen ketika dunia cukup lemah untuk berubah, tetapi cukup matang untuk menerima pesan universal.

Melihat kelahiran Nabi Muhammad Saw dari sudut pandang ini membantu kita memahami bahwa Islam bukan sekadar peristiwa keagamaan, melainkan jawaban sejarah atas krisis peradaban. Ia lahir bukan di pusat kekuasaan, tetapi di pinggiran; bukan pada masa kejayaan, tetapi di tengah kelelahan dunia. Dan justru karena itulah ia mampu melampaui batas geografis, etnis, dan budaya.

Pada akhirnya, memahami konteks historis kelahiran Nabi Muhammad Saw bukanlah upaya mengurangi dimensi ketuhanan Islam, melainkan memperkaya cara kita memaknainya. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering datang ketika dunia berada di ambang keputusasaan. Abad ke-6 M adalah ambang itu. Dari sana, sebuah peradaban baru mulai menulis kisahnya, kisah yang pengaruhnya masih kita rasakan hingga hari ini.

Minggu, 11 Januari 2026

KISI-KISI SOAL UAS MATA KULIAH SKI TAHUN AKADEMIK 2025-2026 GANJIL

 Identitas:

Mata Kuliah

:

Sejarah Kebudayaan Islam

Program Studi

:

S1 - PAI

Bentuk Tes

:

Pilihan Ganda

Jumlah Soal

:

40

Level Kognitif

:

HOTS (C4-C6)

 

No

CPMK / Sub CPMK

Materi Pokok

Indikator Soal

Level Kognitif

1

Memahami hakikat & urgensi SKI

Pengertian, ruang lingkup, fungsi SKI

Mahasiswa mampu menganalisis urgensi SKI dalam PAI

C4

2

Memahami SKI dalam OBE

SKI berbasis capaian pembelajaran

Mahasiswa mampu mengevaluasi pembelajaran SKI berbasis OBE

C5

3

Memahami sumber sejarah Islam

Al-Qur’an sebagai sumber sejarah

Mahasiswa mampu menganalisis karakter Al-Qur’an sebagai sumber sejarah

C4

4

Memahami metode historiografi Islam

Hadis, atsar, literatur klasik

Mahasiswa mampu menilai penggunaan sumber klasik secara kritis

C5

5

Menjelaskan kondisi Arab pra-Islam

Sosial, moral, budaya jahiliyah

Mahasiswa mampu menganalisis krisis sosial pra-Islam

C4

6

Menjelaskan dakwah Rasulullah di Makkah

Strategi dan tantangan dakwah

Mahasiswa mampu menganalisis pendekatan dakwah kontekstual

C4

7

Menjelaskan dakwah Rasulullah di Madinah

Piagam Madinah & pemerintahan

Mahasiswa mampu mengevaluasi Piagam Madinah sebagai konstitusi

C5

8

Menganalisis kepemimpinan Khulafaur Rasyidin

Abu Bakar ash-Shiddiq

Mahasiswa mampu menganalisis kebijakan kepemimpinan awal Islam

C4

9

Menganalisis administrasi Islam

Umar bin Khattab

Mahasiswa mampu mengevaluasi inovasi pemerintahan Islam

C5

10

Menganalisis konflik internal Islam

Utsman bin Affan

Mahasiswa mampu menganalisis sebab konflik sosial-politik

C4

11

Menganalisis dilema kepemimpinan

Ali bin Abi Thalib

Mahasiswa mampu menilai konflik idealisme dan realitas politik

C5

12

Menilai masa Khulafaur Rasyidin

Model kepemimpinan Islam

Mahasiswa mampu menyimpulkan signifikansi historis

C6

13

Menjelaskan berdirinya Bani Umayyah

Sistem monarki Islam

Mahasiswa mampu menganalisis perubahan sistem politik

C4

14

Menganalisis kebijakan Umayyah

Administrasi & ekspansi

Mahasiswa mampu mengevaluasi dampak kebijakan Umayyah

C5

15

Menganalisis budaya Islam Umayyah

Seni & arsitektur

Mahasiswa mampu menganalisis perkembangan budaya Islam

C4

16

Mengevaluasi kritik terhadap Umayyah

Diskriminasi & politik

Mahasiswa mampu menilai kritik historis secara objektif

C5

17

Menilai periode Umayyah

Transisi kepemimpinan Islam

Mahasiswa mampu menyimpulkan karakteristik periode Umayyah

C6

18

Menjelaskan berdirinya Abbasiyah

Latar belakang politik & sosial

Mahasiswa mampu menganalisis faktor kemenangan Abbasiyah

C4

19

Menganalisis masa keemasan Abbasiyah

Baitul Hikmah & ilmu

Mahasiswa mampu mengevaluasi integrasi ilmu dan agama

C5

20

Menganalisis kemunduran Abbasiyah

Faktor internal & eksternal

Mahasiswa mampu menganalisis sebab kemunduran peradaban

C4

21

Meneladani nilai peradaban Islam

Nilai kepemimpinan & keilmuan

Mahasiswa mampu mengevaluasi relevansi nilai sejarah

C5

22

Integrasi SKI dalam pembelajaran PAI

SKI dalam RPP & Kurikulum Merdeka

Mahasiswa mampu menganalisis integrasi nilai SKI

C4

23

Merancang pembelajaran SKI

Project-Based Learning

Mahasiswa mampu mengevaluasi model pembelajaran berbasis proyek

C5

24

Analisis nilai kepemimpinan Islam

Keteladanan Umar bin Khattab

Mahasiswa mampu mengaplikasikan nilai kepemimpinan

C6

25

Analisis perbandingan dakwah

Dakwah Makkah & Madinah

Mahasiswa mampu menganalisis perbedaan strategi dakwah

C4

26

Evaluasi konflik sejarah Islam

Dampak konflik politik

Mahasiswa mampu mengevaluasi implikasi konflik sejarah

C5

27

SKI & moderasi beragama

Nilai toleransi & pluralitas

Mahasiswa mampu menganalisis kontribusi SKI

C4

28

Kritik pembelajaran SKI

Triumphalisme sejarah

Mahasiswa mampu mengevaluasi dampak pembelajaran tidak kritis

C5

29

Refleksi kemunduran peradaban

Pembelajaran historis

Mahasiswa mampu menyimpulkan pelajaran peradaban

C6

30

Evaluasi strategi pembelajaran SKI

Pembelajaran berbasis nilai

Mahasiswa mampu menilai efektivitas strategi pembelajaran

C5

31

Sintesis peradaban Islam

Ilmu, moral, kepemimpinan

Mahasiswa mampu menyimpulkan faktor kemajuan peradaban

C6

32

Relevansi SKI & Kurikulum Merdeka

Pendidikan karakter

Mahasiswa mampu menganalisis relevansi kurikulum

C4

33

Evaluasi CPMK SKI

Keterampilan mahasiswa

Mahasiswa mampu mengevaluasi capaian pembelajaran

C5

34

Sintesis fungsi SKI dalam PAI

SKI sebagai sumber nilai

Mahasiswa mampu menyimpulkan fungsi utama SKI

C6