Sejarah tidak pernah benar-benar bergerak secara acak. Ia seperti sungai besar yang, pada momen tertentu, menemukan celah paling tepat untuk mengalir deras. Abad ke-6 M adalah salah satu celah itu. Sebuah masa ketika dunia tampak letih, peradaban-peradaban besar mulai kehilangan arah, dan manusia—secara kolektif—mencari makna baru dalam hidupnya. Di tengah situasi inilah Nabi Muhammad Saw lahir, bukan sekadar sebagai tokoh religius, tetapi sebagai penanda perubahan besar dalam sejarah manusia.
Jika kita menoleh ke peta dunia abad ke-6 M, yang tampak bukanlah kejayaan, melainkan kelelahan. Kekaisaran Romawi Timur dan Persia Sassaniyah, dua raksasa peradaban saat itu, terlibat dalam perang panjang yang menguras tenaga dan sumber daya. Institusi politik melemah, ekonomi tertekan, dan rakyat kecil menanggung beban terberat. Di Eropa Barat, pasca runtuhnya Romawi Barat, kehidupan intelektual mengalami stagnasi. Pengetahuan tidak berkembang, dan tatanan sosial kehilangan pegangan yang jelas. Agama-agama besar pun tak luput dari krisis; ajaran luhur sering terjebak dalam perdebatan doktrinal, sementara nilai moral semakin jauh dari praktik sehari-hari.
Di saat dunia besar sedang limbung, Jazirah Arab justru berada di pinggir sejarah, tidak ikut runtuh, tetapi juga belum bangkit. Wilayah ini tidak dikuasai Romawi maupun Persia. Ia bukan pusat kekuasaan, tetapi menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai peradaban. Orang Arab hidup dalam tradisi lisan yang kuat, menjaga ingatan kolektif melalui syair dan cerita. Namun, kehidupan sosial mereka juga sarat konflik: perang antarsuku, ketidakadilan, dan kekerasan dianggap lumrah. Arab, dengan segala keterbatasannya, adalah ruang yang keras, tetapi justru belum terkunci oleh sistem besar apa pun.
Di sinilah letak paradoks sejarah. Justru dari wilayah yang dianggap “terbelakang” inilah lahir gagasan besar yang mengubah dunia. Ibn Khaldun, sejarawan dan filsuf Muslim abad ke-14, mungkin akan mengatakan bahwa masyarakat Arab kala itu memiliki ‘asabiyyah—solidaritas sosial—yang masih murni dan kuat. Solidaritas ini memang kasar dan destruktif, tetapi memiliki energi besar. Ia hanya menunggu arah. Kehadiran Nabi Muhammad Saw mengubah energi kesukuan itu menjadi ikatan ideologis yang lebih luas, melampaui darah dan kabilah, menuju persaudaraan atas dasar iman dan keadilan.
Sementara itu, Arnold J. Toynbee, sejarawan modern, menawarkan kacamata berbeda namun saling melengkapi. Dalam teorinya tentang challenge and response, Toynbee menjelaskan bahwa peradaban lahir ketika manusia mampu merespons tantangan besar secara kreatif. Abad ke-6 M menghadirkan tantangan global: krisis moral, kekosongan spiritual, dan ketimpangan sosial. Islam, melalui ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw tampil sebagai respons yang menyeluruh, memberi makna hidup, menata ulang relasi sosial, dan menawarkan visi keadilan yang konkret.
Pertanyaannya kemudian, mengapa abad ke-6 M? Mengapa bukan lebih awal atau lebih lambat? Sejarah memberi jawaban yang sunyi namun tegas. Jika Islam hadir lebih awal, ia mungkin akan tenggelam di bawah bayang-bayang imperium besar. Jika hadir lebih lambat, dunia sudah terlanjur dipagari oleh sistem kekuasaan dan ideologi yang sulit ditembus. Abad ke-6 M adalah momen ketika dunia cukup lemah untuk berubah, tetapi cukup matang untuk menerima pesan universal.
Melihat kelahiran Nabi Muhammad Saw dari sudut pandang ini membantu kita memahami bahwa Islam bukan sekadar peristiwa keagamaan, melainkan jawaban sejarah atas krisis peradaban. Ia lahir bukan di pusat kekuasaan, tetapi di pinggiran; bukan pada masa kejayaan, tetapi di tengah kelelahan dunia. Dan justru karena itulah ia mampu melampaui batas geografis, etnis, dan budaya.
Pada akhirnya, memahami konteks historis kelahiran Nabi Muhammad Saw bukanlah upaya mengurangi dimensi ketuhanan Islam, melainkan memperkaya cara kita memaknainya. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering datang ketika dunia berada di ambang keputusasaan. Abad ke-6 M adalah ambang itu. Dari sana, sebuah peradaban baru mulai menulis kisahnya, kisah yang pengaruhnya masih kita rasakan hingga hari ini.