Senin, 24 Juli 2017

Di mana dirimu?

Bukan persoalan mencari,  menunggu,  atau apapun itu,  hanya soal waktu,  bukan?.  Ditemani lagu cinta,  aku duduk di pojok atas tangga,  menghadap ke arah hunian yang sepi,  mengayomi jiwa berteduh di dekap malam.

Langitpun hitam tanpa awan,  tanpa bintang,  bulan pun tak muncul kali ini.  Serasa sedih memang,  kala langit menangis tumpahkan air mata walau sekejap. 

Bunyi-bunyian pun entah menghilang kemana detik ini. Mungkin,  begitu halus rasanya resapi sedih langit yang dingin ini.  Bekasnya pun masih terlihat menimpa tanah yang makin hitam,  tegaskan kesedihan malam ini.  Begitupun angin bergerak berseliweran,  sibuk sendiri,  tak tentu arah,  sebarkan berita kesedihan ini.  Semakin larut semakin jelas bayangannya,  meski tak ada matahari.

Lalu,  aku sendiri terhanyut,  merasa terseret ke pusaran ini.  Menyatu,  tak lagi tahu mana diriku,  di mana dirimu.  Mungkin kekalutan akud terpendam selama ini,  perjalan ini,  tujuan yang berkoma ini,  sambil menunggu waktu menjadwalkan dengan titik.

Semoga lekas pudar.  Semoga lekas mencair.  Semoga lekas lembut.  Semoga lekas membaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar