Sri Pakubuwana IV secara futuristik mengatakan: "Ingkang limrah ing jaman samangke sami kuwalik tingalipun, limrah guru naruthuk ngupados murid, mangka ingkang sampun limrah ing jaman kina, murid ingkang sami ngupados guru". Bagi saya, "ramalan" tersebut bernada sarkastik kalau dipahami dalam konteks sekarang.
Kata guru dalam berbagai aspek kemaknaannya lekat dengan konsep yang amat dalam-tempat muara pengatahuan-para murid.
Dengan demikian, guru secara ontologis adalah sosok yang bebas dan independen, kalau tidak "aliran" pengetahuan akan tersendat dalam endapan yang berbahaya.
Memang, kemudian "guru" mau tidak mau harus berpindah dari "pertapaan" das sollen menuju "gelanggang" das sein untuk menverifikasin keabsahaan "ramalan" yang muncul berabad silam.
Kemudian mencoba menjawab, apakah wibawa guru semakin berkurang dari waktu ke waktu, generasi ke generasi, paradigma ke paradigma, dari zaman padepokan ke zaman sekolahan? Kalau memang iya? Haruslah kita membuka lembaran romantisme jaman dahulu? Kalau tidak, terserahlah....
MANTAP BRO...
BalasHapus