Buku Nahwa Manhajiyyah Ma'rifiyyah Qur'aniyyah karya Dr. Taha Jabir Al-Alwani membahas perlunya reformasi pemikiran Islam kontemporer dengan menetapkan metodologi baru yang berakar pada Al-Qur'an (p. 1). Al-Alwani berpendapat bahwa pemikiran Islam tradisional, yang sangat bergantung pada akumulasi pengetahuan masa lalu dan mazhab fikih, telah menjauh dari pendekatan holistik Al-Qur'an dan menyebabkan perpecahan serta krisis dalam umat (pp. 9, 11). Krisis ini diperparah oleh ketergantungan buta pada tradisi, yang menurutnya, telah mengabaikan aspek-aspek penting dari wahyu (p. 15). Oleh karena itu, Al-Alwani menyerukan perlunya mengembalikan otoritas pusat Al-Qur'an dalam membentuk kembali ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam (p. 23). Pendekatan ini bertujuan untuk merespons tantangan kontemporer dengan solusi yang relevan secara global (p. 23).
Melalui karyanya, Al-Alwani mengusulkan tiga prinsip utama untuk metodologi epistemologis Qur'ani: Tauhid sebagai spektrum pandangan dunia Qur'ani yang mencakup keyakinan, kemurnian, dan peradaban, penggabungan "dua bacaan" (the two readings), yaitu membaca wahyu (Al-Qur'an) dan membaca alam semesta (fenomena kosmik) secara terintegrasi, serta kesatuan struktural Al-Qur'an (structural harmony of the Quran) dan realitas kosmik yang saling terkait, menekankan bahwa Al-Qur'an harus dibaca sebagai satu kesatuan yang kohesif (pp. 38-39). Metodologi ini menekankan pentingnya tadabbur (kontemplasi mendalam) dan tujuan universal (Maqasid Qur'aniyyah) seperti keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan. Metodologi ini juga mengintegrasikan akal dan indera sebagai sumber pengetahuan, menolak pandangan yang memisahkan keduanya sebagaimana klaim empirisme atau rasionalisme ekstrem (p. 42). Dengan demikian, pemikiran Islam yang lebih tercerahkan dan beradab diharapkan dapat terwujud (p. 23).
Secara keseluruhan, buku ini merupakan seruan untuk mengembalikan otoritas pusat Al-Qur'an dalam membentuk kembali ilmu pengetahuan dan pemikiran Islam, melampaui ketergantungan buta pada tradisi masa lalu dan merespons tantangan kontemporer dengan solusi yang relevan secara global (pp. 23, 39). Metodologi ini berusaha untuk mengatasi kelemahan metodologis dari pendekatan sebelumnya, seperti yang ditunjukkan oleh kaum literalis dan ahl al-kalam, yang cenderung mengabaikan aspek-aspek penting dari wahyu atau penalaran manusia (p. 11). Dengan menekankan pada tadabbur dan tujuan universal (Maqasid Qur'aniyyah) seperti keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan, Al-Alwani berusaha membangun pemikiran Islam yang lebih tercerahkan dan beradab. Buku ini bertujuan untuk memberikan landasan epistemologis yang kokoh untuk pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang terintegrasi dan relevan dengan realitas modern.
Konsep "Dua Bacaan" (The Two Readings)
Konsep "dua bacaan" (the two readings) yang diajukan oleh Al-Alwani merujuk pada keharusan untuk mengintegrasikan dua sumber pengetahuan utama secara simultan: membaca wahyu (Al-Qur'an) dan membaca alam semesta (cosmic phenomena atau realitas empiris) (p. 38). Membaca wahyu melibatkan pemahaman mendalam (tadabbur) terhadap teks suci, sementara membaca alam semesta melibatkan pengamatan, eksperimen, dan penemuan hukum-hukum alam (sunnatullah) (p. 39). Al-Alwani berpendapat bahwa generasi awal umat Islam berhasil menguasai kedua bacaan tersebut, yang mengantarkan mereka pada masa kejayaan peradaban (p. 39). Namun, umat selanjutnya mulai mengabaikan salah satunya atau memisahkan keduanya, menyebabkan kemunduran dan krisis metodologis dalam pemikiran Islam (p. 39). Penggabungan kedua bacaan ini berfungsi sebagai landasan epistemologis untuk membangun kembali ilmu pengetahuan Islam yang relevan dan terhubung dengan realitas kontemporer.
Peran Maqasid Qur'aniyyah
Peran tujuan universal (Maqasid Qur'aniyyah) sangat sentral dalam metodologi Al-Alwani, berfungsi sebagai kompas etis dan moral dalam penafsiran dan penerapan ajaran Islam (p. 23). Al-Qur'an memandu umat manusia menuju Maqasid (tujuan) universal seperti keadilan, kesetaraan, dan kemaslahatan umum (maslahat) (pp. 23, 27). Tujuan-tujuan ini melampaui interpretasi literal yang sempit dan kontekstual, mendorong umat untuk berpikir secara holistik tentang dampak tindakan dan keputusan dalam skala global (p. 23). Dengan fokus pada Maqasid, Al-Alwani berusaha membangun pemikiran Islam yang lebih tercerahkan dan beradab, yang mampu menyelesaikan masalah kemanusiaan universal, bukan hanya masalah sektarian (p. 23). Pendekatan ini memungkinkan penyesuaian hukum dan etika Islam dengan tantangan modern sambil tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Qur'ani yang abadi.
Krisis Pemikiran Islam Dewasa Ini
Krisis dalam pemikiran Islam kontemporer, yang ditandai dengan perpecahan sektarian, stagnasi intelektual, dan ketidakmampuan merespons tantangan global, dapat diatasi melalui penerapan metodologi epistemologis Qur'ani yang diusulkan oleh Al-Alwani (pp. 11, 19). Pendekatan ini secara fundamental berupaya mengembalikan otoritas pusat Al-Qur'an sebagai satu-satunya sumber pengetahuan dan panduan yang komprehensif, bukan sekadar pelengkap tradisi masa lalu (pp. 23, 25). Al-Alwani berpendapat bahwa ketergantungan buta pada akumulasi pengetahuan masa lalu (turas), yang sering kali disakralkan dan dianggap final, telah menghalangi umat untuk terlibat langsung dengan wahyu dan realitas kontemporer (pp. 9, 11). Dengan mengadopsi "dua bacaan" (wahyu dan alam) secara terpadu, umat dapat membangun kembali landasan intelektual yang kokoh, di mana pengetahuan alam dan pengetahuan wahyu saling menguatkan, seperti yang terjadi pada masa keemasan peradaban Islam awal (p. 39).
Metodologi ini juga menekankan penerapan tujuan universal (Maqasid Qur'aniyyah) untuk memandu penalaran dan pengambilan keputusan, sehingga menghasilkan solusi yang relevan, etis, dan adil secara global, melampaui batasan mazhab fikih yang sempit atau literalis (p. 23). Fokus pada Maqasid seperti keadilan, kesetaraan, dan martabat manusia memungkinkan umat Islam untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman, alih-alih terjebak dalam penolakan membabi buta terhadap modernitas (pp. 23, 26). Al-Alwani melihat bahwa pendekatan ini memungkinkan pemikiran Islam untuk melampaui filosofi bumi yang terbatas dan mengintegrasikan aspek-aspek positif dari peradaban lain di bawah payung pandangan dunia tauhid (p. 23). Secara efektif, metodologi ini menyediakan peta jalan untuk membangun kembali "Umat Kutub" (Ummah Qutb) atau umat percontohan yang aktif, kreatif, dan beradab, yang mampu memimpin umat manusia keluar dari krisis global saat ini (pp. 25, 39).
Kritik terhadap Literalisme dan Tradisionalisme
Al-Alwani berpendapat bahwa pendekatan literalisme (tekstualis) dan ketergantungan buta pada tradisi masa lalu telah menyebabkan umat Islam kehilangan pandangan holistik dan tujuan universal Al-Qur'an (pp. 9, 11). Fokus berlebihan pada akumulasi pengetahuan naratif (al-ʻulūm al-naqlīyah) dan penafsiran generasi awal, tanpa kritik atau pembaruan yang tepat, membuat teks suci terisolasi dari realitas kontemporer dan tantangan zaman (pp. 9, 21). Hal ini mengaburkan "kemutlakan Al-Qur'an" dan "universalitas pesannya," memperlakukannya seolah-olah hanya berlaku untuk konteks geografis atau historis tertentu (p. 11). Akibatnya, umat terpecah menjadi faksi-faksi sektarian dan mazhab yang saling bertentangan, yang semakin menjauhkan mereka dari persatuan dan kemajuan peradaban yang dicitakan Al-Qur'an (pp. 11, 15).
Kritik terhadap Teologi Kalam (Ahl al-Kalam)
Al-Alwani juga mengkritik formulasi teologis (ṣiyāghat al-lāhūtīyah) atau teologi kalam, yang menurutnya, seringkali mencampuradukkan wahyu Ilahi yang mutlak dengan penalaran dan interpretasi manusia yang relatif dan terikat konteks sejarah (p. 13). Para teolog ini cenderung mengabaikan aspek-aspek penting dari wahyu atau penalaran manusia yang terintegrasi, memilih salah satunya secara eksklusif. Pendekatan ini tidak mampu menyatukan "dua bacaan" (wahyu dan alam), sehingga gagal memberikan solusi yang komprehensif terhadap krisis eksistensial dan intelektual manusia (p. 23). Al-Alwani menekankan bahwa kelemahan metodologis dari ahl al-kalam ini terletak pada ketidakmampuan mereka untuk mengintegrasikan penalaran rasional dan empiris dengan panduan wahyu secara harmonis, yang diperlukan untuk membangun peradaban yang kokoh dan seimbang (pp. 13, 39).
Kritik terhadap Materialisme dan Krisis Eksistensial
Al-Alwani berpendapat bahwa filsafat yang berakar pada materialisme atau positivisme cenderung mengabaikan aspek transendental dan spiritualitas manusia, mereduksi realitas hanya pada hal-hal yang dapat diobservasi secara empiris. Penolakan terhadap hal-hal gaib atau supranatural ini menyebabkan manusia modern kehilangan koneksi dengan tujuan hidup yang lebih tinggi, menciptakan "kehampaan nihilistik" (nihilistic void) atau kekosongan eksistensial. (p. 17) Dalam pandangan Al-Alwani, pendekatan ini pada akhirnya hanya menghasilkan manusia yang teralienasi, terjebak dalam siklus konsumsi dan produksi tanpa makna yang lebih dalam. (p. 17) Kegagalan ini terlihat jelas dalam ketidakmampuan peradaban Barat untuk menyelesaikan masalah fundamental manusia, bahkan ketika kemajuan ilmiah dan teknologi berada di puncaknya.
Kritik terhadap Liberalisme dan Individualisme
Al-Alwani juga mengkritik liberalisme karena penekanannya yang berlebihan pada individualisme radikal dan kebebasan absolut, yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta. (p. 15) Meskipun liberalisme menjanjikan solusi, Al-Alwani melihat bahwa hal itu justru memperburuk masalah sosial dan etis. (pp. 16-17) Fokus pada hak-hak individu seringkali mengabaikan tanggung jawab kolektif dan mengarah pada fragmentasi masyarakat. (p. 16) Ideologi-ideologi ini, baik materialisme maupun liberalisme, dianggap gagal memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk "keselamatan total" (total salvation) umat manusia dari krisis yang dihadapi. (pp. 15, 23) Al-Alwani memperingatkan bahwa kegembiraan Barat atas runtuhnya ideologi tandingan seperti Marxisme akan berumur pendek, karena kelemahan mendasar dari pemikiran Barat sendiri akan segera terlihat jelas.
Metodologi Epistemologis Qur'ani
Al-Alwani memposisikan metodologi epistemologis Qur'ani sebagai alternatif komprehensif yang unik dan superior terhadap kegagalan ideologi-ideologi Barat karena kemampuannya untuk menawarkan "solusi global" dan "keselamatan total" bagi umat manusia. (p. 23) Tidak seperti pendekatan-pendekatan Barat yang seringkali eksklusif, terfragmentasi, dan berpusat pada manusia semata, metodologi Al-Alwani berakar pada sumber Ilahi yang absolut dan universal: Al-Qur'an. (p. 23) Al-Qur'an, dengan karakteristiknya yang unik, mampu memvalidasi, meninjau ulang, dan pada akhirnya mengungguli semua metodologi lainnya, serta membentuknya kembali dalam kerangka kerja kosmiknya sendiri. (p. 23) Integrasi dari "dua bacaan" (wahyu dan alam) secara efektif menjembatani kesenjangan antara spiritual dan material, serta antara tradisi dan modernitas, yang menjadi titik lemah ideologi-ideologi Barat. (pp. 23, 38-39)
Al-Alwani menekankan bahwa solusi yang ditawarkan oleh Al-Qur'an tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis, bertujuan untuk mengembalikan umat pada peran sentral mereka sebagai "umat percontohan" (Ummah Qutb) yang adil dan beradab. (pp. 24-25) Dengan membebaskan diri dari ketergantungan buta pada warisan masa lalu dan mengkritisi ideologi-ideologi yang gagal, umat Islam dapat kembali mengambil inisiatif dan memimpin umat manusia keluar dari krisis saat ini. (p. 22) Metodologi ini memungkinkan terciptanya tatanan sosial dan intelektual yang seimbang, di mana akal, wahyu, dan realitas empiris beroperasi secara harmonis di bawah panduan tauhid. (pp. 38, 40) Al-Alwani percaya bahwa hanya dengan mengadopsi pendekatan holistik dan terpadu inilah umat manusia dapat menemukan jalan menuju keadilan sejati, kesetaraan, dan kemaslahatan umum yang berkelanjutan. (p. 23)
Siapa Ummah Qutb?
Dalam visi Dr. Al-Alwani, konsep "Umat Kutub" (Ummah Qutb) atau "Umat Percontohan" (Model Nation) adalah tujuan akhir dari penerapan metodologi epistemologis Qur'ani yang baru. Umat ini bukanlah sekadar kelompok religius pasif, melainkan komunitas yang aktif, dinamis, dan berfungsi sebagai saksi (shāhid) peradaban di mata dunia (p. 27). Peran sentral umat ini adalah untuk menegakkan keadilan dan kebaikan universal (khayr), yang merupakan tujuan utama dari syariat Islam (Maqasid) (p. 39). Umat ini harus terlepas dari perpecahan sektarian atau identitas kesukuan yang sempit, bersatu di bawah satu panji tauhid dan ajaran Al-Qur'an secara holistik (pp. 27-28).
Karakteristik utama "Umat Kutub" mencakup beberapa elemen kunci:
- Kesatuan Struktural: Umat ini dipersatukan oleh "tali Allah" (habl Allāh) dan menolak perpecahan (tafarruq) dan perselisihan (ikhtilāf) yang telah merusak umat Islam kontemporer (pp. 27-28).
- Aktif dan Kreatif: Berbeda dengan umat saat ini yang pasif dan hanya bereaksi terhadap tekanan eksternal (rudūd al-afʻāl), Umat Kutub adalah proaktif, kreatif, dan mampu menghasilkan peradaban sendiri (al-faʻīlīyah) (p. 19).
- Integrasi Pengetahuan: Umat ini menguasai "dua bacaan" (wahyu dan alam semesta), menggabungkan ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan kosmik secara harmonis, yang mengarah pada kemajuan ilmiah dan spiritual (p. 39).
- Misi Universal: Mereka tidak hanya fokus pada komunitas internal, tetapi memiliki tanggung jawab global untuk memimpin umat manusia menuju "jalan keselamatan" (sabīl al-khalāṣ) dari krisis ideologis dan moral yang melanda dunia, termasuk kegagalan liberalisme dan materialisme (p. 23).
Secara ringkas, "Umat Kutub" adalah visi Al-Alwani untuk masyarakat ideal yang mengimplementasikan kembali prinsip-prinsip Qur'ani secara dinamis dan relevan, menjadi model peradaban yang adil dan beradab bagi seluruh umat manusia.
Tantangan Mewujudkan Visi Umat Kutub
Mewujudkan visi "Umat Kutub" (Ummah Qutb) menghadapi tantangan signifikan, baik dari dalam maupun luar umat Islam kontemporer, yang secara cermat diuraikan oleh Al-Alwani dalam bukunya. Tantangan internal terbesar adalah kondisi umat saat ini yang berada dalam "tidur nyenyak" (deep slumber), mengalami stagnasi intelektual, dan terpecah belah oleh sektarianisme, literalisme, serta ketergantungan buta pada tradisi masa lalu (taqlīd). Sikap pasif ini membuat umat hanya mampu bereaksi terhadap guncangan eksternal, alih-alih menjadi agen perubahan proaktif. Selain itu, terdapat masalah kepemimpinan di berbagai tingkatan yang sering kali teralienasi dari realitas umat, mengadopsi solusi impor Barat yang tidak efektif atau malah memperburuk krisis. Kegagalan untuk mengintegrasikan pengetahuan wahyu dan pengetahuan alam semesta semakin memperparah ketidakmampuan umat untuk mengatasi masalah multidimensi yang dihadapi.
Tantangan eksternal datang dari dominasi ideologi-ideologi Barat seperti liberalisme dan materialisme, serta proyek globalisasi yang berupaya membentuk kembali dunia sesuai citranya sendiri. Al-Alwani menyoroti bagaimana globalisasi, melalui konsep "benturan peradaban" dan asimilasi budaya, berusaha mengikis identitas unik umat Islam dan merampas warisan peradaban mereka. Ideologi-ideologi ini, meskipun diklaim universal, pada kenyataannya gagal menawarkan solusi holistik terhadap krisis kemanusiaan dan bahkan menciptakan kekosongan eksistensial. Upaya untuk menerapkan metodologi Qur'ani yang berani dan komprehensif seringkali ditentang oleh kekuatan global yang ingin mempertahankan hegemoni intelektual dan politik mereka. Oleh karena itu, perjuangan untuk mewujudkan visi Umat Kutub adalah perjuangan yang kompleks, membutuhkan reformasi internal mendalam sambil menghadapi tekanan eksternal yang kuat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar