Sabtu, 04 Januari 2025

Who Rules the World? Perspektif Kritis Chomsky tentang Imperialisme, Terorisme, dan Masa Depan Umat Manusia


Buku
 "Who Rules the World?" karya Noam Chomsky adalah kumpulan esai yang tajam dan didokumentasikan dengan cermat, yang menelaah peran Amerika Serikat dalam urusan global pasca-9/11. Chomsky berpendapat bahwa kebijakan luar negeri AS sering kali mengedepankan kekuasaan dan kepentingan elite di atas demokrasi dan hak asasi manusia, yang mengarah pada kekacauan global dan risiko bencana yang mengancam kelangsungan peradaban. Dia menantang pembaca untuk mempertanyakan narasi resmi dan mengakui tanggung jawab para intelektual dalam mengungkap kebenaran.
Hegemoni Amerika dan Kemunafikan Kekuasaan Global
Chomsky membuka analisisnya dengan premis bahwa meskipun kekuatan AS telah menurun dari puncaknya pada tahun 1945, negara ini tetap menjadi aktor dominan yang menentukan sebagian besar diskursus global (p. 10). Bersama dengan negara-negara G7 lainnya dan lembaga keuangan internasional yang mereka kendalikan, AS membentuk "pemerintah dunia de facto" yang bertindak demi kepentingan "tuan-tuan umat manusia" (korporasi multinasional dan institusi keuangan raksasa) (pp. 10, 13). Buku ini secara efektif menunjukkan bagaimana retorika AS tentang kebebasan dan demokrasi sering kali bertentangan dengan tindakan imperialisnya di lapangan.
Argumen sentral Chomsky adalah bahwa motif utama di balik kebijakan luar negeri AS bukanlah keamanan nasional atau penyebaran nilai-nilai luhur, melainkan pemeliharaan dan perluasan kendali atas sumber daya dan pasar global. Dia menggunakan banyak bukti terdokumentasi untuk mendukung klaim bahwa perilaku negara sering kali tidak berhasil dalam menjamin keamanan bagi warganya sendiri, dan bahkan terkadang memperburuk ancaman.
Misalnya, ia mengulas sejarah kelam keterlibatan AS di Kuba dan sanksi terhadap Iran, menunjukkan inkonsistensi dalam penerapan prinsip-prinsip internasional. Alih-alih mempromosikan perdamaian dan stabilitas, kebijakan AS sering kali memicu konflik dan ketidakamanan, seperti yang terlihat dalam invasi ke Afghanistan dan Irak pasca-9/11 (p. 36).
Chomsky menyoroti bagaimana "dunia" dalam wacana Anglo-Amerika sering kali didefinisikan sebagai kelas politik di Washington dan London, yang pendapatnya disamakan dengan konsensus global, meskipun jajak pendapat internasional menunjukkan sentimen yang sangat berbeda dari masyarakat dunia (p. 43).
Fokusnya yang tajam pada pelanggaran hak asasi manusia dan campur tangan militer AS di berbagai belahan dunia, dari Amerika Tengah hingga Timur Tengah, berfungsi sebagai seruan untuk mengakhiri kemunafikan Amerika dan memperkenalkan dimensi yang lebih konsisten dan berprinsip dalam hubungan global.
Krisis Demokrasi dan Dominasi Elite Internal
Chomsky mengalihkan pandangan kritisnya ke dalam negeri, dengan alasan bahwa bahkan dalam masyarakat yang lebih demokratis seperti AS, populasi umum hanya memiliki sedikit pengaruh dalam pengambilan keputusan (p. 11). Penelitian yang dia kutip memberikan "dukungan penting bagi teori Dominasi Elite Ekonomi", yang menyatakan bahwa kepentingan bisnis dan elite kaya memiliki pengaruh yang sangat besar, sementara masyarakat umum dan kelompok kepentingan berbasis massa hampir tidak punya pengaruh sama sekali (p. 11).
Hasil dari ketidakseimbangan kekuasaan ini adalah apatis yang signifikan, terutama di kalangan pemilih berpendapatan rendah, yang merasa bahwa suara mereka tidak berarti dan kepentingan segelintir orang mengendalikan kebijakan pemerintah (pp. 11-12). Ini mengarah pada krisis demokrasi, di mana partisipasi politik menurun drastis dan masyarakat semakin kecewa dengan kedua partai politik besar yang dianggap dikendalikan oleh uang (p. 12).
Dia membahas "demokrasi yang kebablasan" di tahun 1960-an, ketika kelompok masyarakat pasif mulai memasuki arena politik, dan bagaimana kalangan elite Trilateral menyerukan "kebersahajaan dalam demokrasi" atau kembalinya pasifisme bagi kelompok yang kurang penting (pp. 20-21). Hal ini menunjukkan ketakutan elite terhadap keterlibatan publik yang luas dan keinginan mereka untuk menjaga tatanan yang menguntungkan kepentingan mereka sendiri (p. 20).
Chomsky juga mencatat bahwa Konstitusi AS pada hakikatnya adalah dokumen aristokratis yang dirancang untuk mengurangi kecenderungan demokratis pada periode tersebut dan memberikan kekuasaan kepada "golongan yang lebih baik" (p. 21).
Korupsi sistem demokrasi oleh kepentingan finansial dan korporasi merupakan tema berulang, yang menunjukkan bagaimana kekuatan internal bekerja untuk memastikan kebijakan yang menguntungkan mereka, sering kali dengan mengorbankan kesejahteraan masyarakat luas.
Perang Melawan Teror dan Inkonsistensi Moral
Chomsky sangat kritis terhadap "perang melawan teror" yang dilancarkan AS, yang ia anggap sebagai manifestasi terbaru dari pola intervensi dan kekerasan historis. Dia menyoroti bagaimana AS mendefinisikan "terorisme" secara selektif, mengagungkan pembangkang di negara musuh sementara mengabaikan atau bahkan mendukung tirani di wilayah kekuasaannya sendiri (p. 24).
Kasus Nelson Mandela, yang tetap dalam daftar teroris AS hingga tahun 2008 meskipun dihormati secara global, adalah salah satu contoh yang digunakan untuk menunjukkan kemunafikan ini (p. 24). AS mendukung rezim apartheid Afrika Selatan dan tindakan penghancurannya terhadap negara-negara tetangga yang mengakibatkan jutaan kematian, semua atas nama perang melawan "wabah terorisme zaman modern" (pp. 24-25).
Dia mengecam peran AS dalam "perang kotor" di Amerika Latin, yang melibatkan dukungan terhadap rezim diktator brutal, regu kematian, dan penindasan gerakan teologi pembebasan (pp. 27-28). Kejadian pada 11 September 1973, kudeta yang didukung AS di Chile, digambarkan sebagai "9/11 pertama" yang jauh lebih membinasakan per kapita daripada serangan di New York, namun diabaikan dalam sejarah konvensional AS (pp. 38-39).
Peristiwa 9/11 kedua digunakan oleh AS sebagai dalih untuk melancarkan perang di Afghanistan dan Irak, sebuah langkah yang menurut Chomsky justru menggenapi tujuan Osama bin Laden untuk menarik AS ke dalam serangkaian perang yang mahal dan meradikalisasi dunia Muslim (pp. 36-37).
Penggunaan nomenklatur yang sembrono seperti "Operasi Geronimo" untuk penyerbuan bin Laden, yang menyamakan pemimpin Al-Qaeda dengan kepala suku Apache yang berperang melawan penjajah, menyoroti penyangkalan mendalam AS terhadap kejahatan historisnya sendiri (p. 34).
Ancaman Eksistensial: Nuklir dan Krisis Iklim
Buku ini juga membahas ancaman eksistensial yang dihadapi peradaban manusia saat ini: perang nuklir dan kerusakan lingkungan. Chomsky memperingatkan bahwa risiko bencana nuklir mungkin lebih tinggi sekarang daripada selama Perang Dingin, sebagian karena modernisasi senjata nuklir AS dan pengembangan senjata "mini-nuke" yang memungkinkan "perang nuklir terbatas" yang berisiko meningkat menjadi bencana penuh (pp. 14-15).
Dia mengutip mantan Menteri Pertahanan AS William Perry, yang menyatakan bahwa probabilitas bencana nuklir saat ini tampak lebih tinggi daripada masa Perang Dingin (p. 14). Rencana Pentagon untuk menyuntikkan triliunan dolar ke dalam pengembangan sistem senjata nuklir baru menunjukkan prioritas yang mengkhawatirkan di tengah ancaman global lainnya (p. 15).
Pada saat yang sama, Chomsky menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan geologis (p. 14). Dia mencatat bahwa sementara berita tentang temuan ilmiah yang menyedihkan terus bermunculan, tindakan yang berarti untuk mengatasi perubahan iklim terhambat oleh kepentingan elite politik dan finansial (p. 14).
Chomsky berpendapat bahwa sistem ekonomi dan politik saat ini yang memprioritaskan keuntungan jangka pendek dan pertumbuhan korporat di atas keberlanjutan mempercepat kedua ancaman ini. Para elite yang berkuasa semakin terisolasi dari kendala demokrasi untuk bertindak secara bertanggung jawab.
Pesan yang mendasari adalah bahwa kegagalan untuk mengatasi tantangan ini secara efektif merupakan cerminan dari kegagalan sistem politik global yang didominasi oleh segelintir orang yang tidak bertindak demi kebaikan bersama.
Tanggung Jawab Intelektual dan Peran Media
Sebuah tema sentral dalam buku ini adalah peran dan tanggung jawab para intelektual. Chomsky membedakan dua kategori: "intelektual berorientasi kebijakan" yang melayani kekuasaan dan lembaga yang ada, dan "intelektual berorientasi nilai" (pembangkang) yang menantang otoritas dan berjuang untuk kebebasan dan keadilan (pp. 20, 23).
Dia berpendapat bahwa masyarakat intelektual umumnya menghormati mereka yang melayani negara dan menghukum mereka yang menolak berderet, sebuah pola yang berulang sepanjang sejarah, dari perlakuan terhadap para nabi Ibrani kuno hingga para pembangkang modern seperti Bertrand Russell atau Eugene Debs (pp. 19, 40-41).
Chomsky mengkritik keras media mainstream karena sering melayani kepentingan elite yang berkuasa dan menciptakan narasi yang memanipulasi opini publik, mengabaikan atau merasionalisasi kejahatan pemerintah. Media dan lembaga akademik, menurutnya, berfungsi sebagai alat indoktrinasi yang mengabadikan pandangan dunia yang bias dan menguntungkan kekuasaan (p. 20).
Dia menekankan pentingnya jurnalisme independen dan pemikiran kritis untuk menantang narasi dominan ini dan meminta pertanggungjawaban kekuasaan. Intelektual memiliki hak istimewa dan kesempatan untuk berbicara kebenaran kepada kekuasaan, dan dengan kesempatan itu datanglah tanggung jawab moral yang besar (p. 41).
Chomsky menempatkan dirinya di antara mereka yang didedikasikan untuk seperangkat nilai yang lebih tinggi, "demi kebebasan, keadilan, belas kasihan, dan perdamaian," dan mendesak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Harapan, Perlawanan, dan Aksi Kolektif
Meskipun analisisnya suram, Chomsky mengakhiri dengan nada harapan, menekankan pentingnya perlawanan dan gerakan akar rumput. Dia menyoroti contoh-contoh tindakan kolektif dan solidaritas, seperti gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin atau gerakan anti-perang, yang menunjukkan potensi perubahan sosial yang transformatif (pp. 27, 29).
Dia menekankan bahwa semua penindasan ini dapat diatasi, tetapi hanya melalui upaya kolektif dan penggunaan sumber daya yang bijaksana. Tidak ada kunci ajaib, hanya kebutuhan akan tekanan publik yang masif dan keterlibatan aktif dari warga negara.
Chomsky menyerukan "penduduk yang menyangganya" untuk mengatasi kekuatan bisnis dan doktrin nasionalis, dan menjadi "hidup dan selaras dengan kehidupan" (p. 15). Intinya, Chomsky berargumen bahwa warga negara memiliki tanggung jawab unik untuk mengkritik tindakan negara mereka sendiri karena mereka memiliki pengaruh terbesar terhadapnya (p. 26).
Perubahan yang berarti datang dari publik yang terlibat dan aktif yang mendorong kembali konsentrasi kekuasaan, seperti yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan protes historis. Buku ini berfungsi sebagai panduan yang sangat diperlukan untuk memahami konflik dan bahaya utama zaman kita dan untuk menginspirasi tindakan kolektif.
Seruan untuk Bertindak
"Who Rules the World?" adalah investigasi intelektual yang mendalam dan didokumentasikan dengan cermat ke dalam isu-isu utama zaman kita. Buku ini secara efektif mengungkap kontradiksi dalam kebijakan luar negeri dan dinamika kekuasaan domestik AS, menantang pembaca untuk mempertanyakan otoritas dan mengembangkan perspektif kritis tentang urusan global.
Chomsky menyajikan kritik komprehensif tentang dinamika kekuasaan global, tetapi juga memberikan secercah harapan dengan menyoroti contoh-contoh perlawanan dan gerakan akar rumput yang menantang sistem opresif.
Ini adalah bacaan penting bagi siapa saja yang ingin memahami kekuatan kompleks yang membentuk dunia kita dan potensi aksi kolektif untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan setara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar