Dalam konteks reformasi pendidikan di Indonesia, Kurikulum Merdeka menawarkan pendekatan baru yang mengedepankan kebebasan dan kreativitas dalam proses belajar mengajar. Namun, untuk memahami dan menilai implikasi dari kurikulum ini secara mendalam, penting untuk menggali lebih dalam nalar dan struktur yang mendasarinya. Artikel ini akan mengeksplorasi Kurikulum Merdeka melalui lensa teori dekonstruksi Jacques Derrida, dengan tujuan untuk membongkar asumsi dan struktur yang mungkin tersembunyi di balik kebijakan pendidikan ini.
Kurikulum Merdeka: Konsep dan Implikasi
Kurikulum Merdeka adalah sebuah inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang bertujuan untuk memberikan kebebasan lebih kepada pendidik dan peserta didik dalam proses belajar. Kurikulum ini berfokus pada pengembangan kompetensi dan karakter siswa, serta memberikan ruang bagi inovasi dalam metode pengajaran. Dalam kurikulum ini, terdapat penekanan pada pembelajaran yang relevan dengan konteks lokal dan kebutuhan individual siswa.
Namun, terlepas dari tujuan idealis dan aspiratifnya, Kurikulum Merdeka juga menghadapi tantangan dan kritik. Ada pertanyaan mendasar mengenai bagaimana kebebasan yang dijanjikan dalam kurikulum ini diartikulasikan dalam praktik dan bagaimana hal ini mempengaruhi struktur kekuasaan dan pengetahuan dalam pendidikan.
Teori Dekonstruksi Derrida: Prinsip dan Penerapan
Jacques Derrida, seorang filsuf Prancis, memperkenalkan teori dekonstruksi sebagai metode analisis yang menantang struktur makna yang tampaknya stabil. Dekonstruksi mengungkapkan bagaimana makna selalu tertunda, tidak pernah sepenuhnya hadir, dan dipengaruhi oleh perbedaan dan ketidakpastian. Dalam konteks ini, pendekatan Derrida dapat digunakan untuk mengevaluasi Kurikulum Merdeka dengan mengidentifikasi asumsi, kontradiksi, dan ambiguitas yang mungkin tidak terlihat pada pandangan pertama.
Dekonstruksi Nalar Kurikulum Merdeka
1. Pertanyaan Tentang Kebebasan dan Struktur
Kebebasan dalam Kurikulum: Kurikulum Merdeka mengedepankan kebebasan dalam pendidikan, namun teori dekonstruksi menantang asumsi bahwa kebebasan ini adalah entitas yang stabil dan terdefinisi dengan jelas. Kebebasan dalam kurikulum mungkin tampak sebagai pembebasan dari struktur yang kaku, tetapi dekonstruksi menunjukkan bahwa kebebasan itu sendiri adalah konstruk yang dipengaruhi oleh berbagai kekuatan dan ketentuan yang tidak selalu terlihat.
Struktur Tersembunyi: Derrida menganggap bahwa struktur yang tampaknya bebas sering kali menyembunyikan bentuk kekuasaan dan kontrol. Dalam hal ini, meskipun Kurikulum Merdeka bertujuan untuk memberikan kebebasan, ada kemungkinan bahwa struktur evaluasi, standar kompetensi, dan kebijakan pendidikan lainnya tetap memengaruhi dan membatasi implementasi kebebasan tersebut.
2. Ambiguitas dan Kontradiksi
Konsep Kompetensi: Kurikulum Merdeka menekankan pengembangan kompetensi siswa. Namun, dekonstruksi dapat mengungkapkan bahwa apa yang dimaksud dengan "kompetensi" mungkin tidak konsisten dan dapat dipahami secara berbeda oleh berbagai pihak. Definisi kompetensi ini dapat berfungsi sebagai titik ketegangan antara harapan ideal dan realitas praktis.
Pertentangan dalam Praktik: Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, terdapat kemungkinan adanya kontradiksi antara tujuan ideal dan praktik lapangan. Misalnya, kebebasan yang diberikan kepada pendidik mungkin berkonflik dengan kebutuhan untuk memenuhi standar nasional yang ditetapkan. Dekonstruksi membantu mengidentifikasi dan menganalisis ketegangan ini.
3. Jejak dan Ketiadaan Makna
Makna yang Tertunda: Menurut Derrida, makna selalu tertunda dan bergantung pada konteks. Dalam Kurikulum Merdeka, makna dari "kebebasan" dan "inovasi" dalam pendidikan tidak pernah sepenuhnya hadir atau terdefinisi secara pasti. Ini berarti bahwa interpretasi dan implementasi dari kurikulum ini selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang tidak sepenuhnya dapat dikontrol atau diprediksi.
Jejak dari Kebijakan Sebelumnya: Kurikulum Merdeka tidak lepas dari jejak kebijakan pendidikan sebelumnya yang mungkin masih mempengaruhi cara kurikulum ini diterapkan. Jejak ini mencakup norma, praktik, dan ideologi yang telah ada, yang mungkin membatasi atau membentuk cara kebebasan dalam kurikulum diartikulasi dan diimplementasikan.
Implikasi untuk Pendidikan
Menggunakan dekonstruksi untuk menganalisis Kurikulum Merdeka memungkinkan kita untuk melihat bagaimana kebijakan pendidikan ini dapat menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya. Pendekatan ini menyoroti pentingnya mempertanyakan asumsi yang mendasari kebijakan pendidikan dan mengidentifikasi potensi kontradiksi serta ketidakpastian dalam implementasi. Hal ini dapat membantu pendidik, pembuat kebijakan, dan masyarakat untuk lebih kritis dalam memahami dan mengevaluasi efektivitas serta dampak dari Kurikulum Merdeka.
Dekonstruksi sebagai Instrumen Kritik dan Perbaikan Kurikulum Merdeka
Dengan menerapkan teori dekonstruksi Derrida pada Kurikulum Merdeka, kita memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai struktur, makna, dan implikasi dari kebijakan pendidikan ini. Dekonstruksi mengungkapkan bahwa kebebasan dan inovasi dalam Kurikulum Merdeka tidak hanya merupakan konsep ideal, tetapi juga merupakan arena di mana kekuasaan, ambiguitas, dan kontradiksi terus-menerus berinteraksi. Dengan demikian, pendekatan ini menawarkan alat yang berharga untuk mengevaluasi dan memperbaiki kebijakan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang lebih inklusif dan efektif.